Emangnya Lu Ga Mau?

Posted by

Tanya salah seorang (orang bukan ya?) kenalan ketika membicarakan soal menikah. Di awal umur 20an, mungkin menikah merupakah topik yang sudah wajar untuk mulai dibahas, bahkan sudah banyak juga yang melaksanakan dan memotivasi untuk segera menyusul.

Dulu waktu masih remaja pernah berpikir ingin menikah secepatnya, karena ingin cepat lepas dari orang tua (serius haha), tapi ternyata ketika sudah memasuki usia legal menikah menurut undang-undang, keinginan tersebut terganti oleh ketakutan.

Contoh pernikahan terdekat dalam hidup saya bukan merupakan ideal pernikahan yang diidam-idamkan banyak orang. Tumbuh sebagai anak tunggal pun membuat saya takut, bagaimana jika saya terlalu keras kepala? bagaimana jika saya terlalu egois dan mau menangnya sendiri? Walau saya tidak menyukai sebagian besar stereotype tentang anak tunggal, harus diakui, karena tidak memiliki saingan, anak tunggal punya kecenderungan untuk kurang peka dan sedikit egois. Kami tidak tumbuh dengan keseharian mengalah dengan adik, atau dibanding-bandingkan dengan kakak. Sekali dua kali ada juga sih dibanding-bandingkan dengan teman yang peringkatnya ada di atas, atau tetangga yang lebih rajin, tapi pasti beda kan?

Tentu saja, saya ingin ada orang yang mencicipi enak-tidaknya masakan saya setiap hari (soalnya kalau buat makan sendiri suka ga niat masaknya). Tentu saja saya ingin ada subjek yang saya jadikan bahan tulisan. Tentu saja saya ingin ada teman memberi semangat setiap mengawali hari dan tempat berpulang lelah setelah beraktivitas. Teman berdiskusi, teman yang melihatnya saja bisa membuat hati saya tenang dan bahagia.

Memang rasanya tidak mungkin untuk bisa secara konstan jatuh hati ke satu orang di dalam jangka waktu yang lama, jika tidak ada usaha dari salah satu pihak untuk menjaga spark. Lama-kelamaan akan ada kalanya bosan melihat wajah suntuknya ketika pulang kerja, perutnya yang membuncit, bahan obrolan yang mungkin makin sedikit karena semua sudah dijalani bersama-sama.

Itu semua memang masih sekedar kemungkinan. Saya sadar kalau saya adalah orang yang sangat membosankan, ketika makan di luar dan saya suka dengan satu menu, saya akan pesan menu itu dan itu saja. Ketika saya menonton film, saya hanya ingin di seat itu saja. Singkatnya, saya orang yang monoton dan sangat mudah ditebak. Bukan saya takut saya akan bertemu orang yang membosankan, saya lebih takut kalau sayalah yang membuat orang lain bosan.

Di sisi lain, sebagai orang yang membosankan, saya punya ekspektasi kalau pasangan saya nantinya bisa jadi ice-breaker di kehidupan monoton saya ini, sounds selfish, right?

Belum lagi nanti sebagai istri dan ibu, apakah saya bisa selalu menjaga intonasi bicara saya? Menjaga pilihan kata ketika mendidik anak. Jauh dari keluarga besar di Payakumbuh, membuat saya tidak terbiasa mengurus anak-anak. Jangan salah sangka, saya suka sekali dengan anak-anak, namun karena saya kurang jam terbang, saya akan sangat canggung menghadapi anak yang rewel, atau lagi nakal-nakalnya. Saya takut tidak bisa mengendalikan emosi, atau ketika sedang tidak mood ditanyai hal yang sama berulang-ulang, saya tidak yakin, saya sesabar itu.

To be fair, temanku yang lain lagi berkata “nggak akan pernah ada kata siap sih” soal pernikahan. Ya, bener juga, sama aja seperti ujian, mau belajar sedikit atau banyak pun tetap saja ada rasa gugup.

TLDR: Tentu saja, saya mau, namun setidaknya tidak dalam jangka waktu dekat. Jelas sih ada yang harus diselesaikan dulu, ini mah tugas susah dikit aja nangis, masa udah siap menghadapi mahligai rumah tangga???

Tapi mau lah, ya kali ga mau?

Edinburgh, 08.10pm, 4Β°C

iykwim

6 comments

    1. ya ampun Pak, malu deh saya postingan kaya gini dibaca pak Radit :’))
      Saya ga jadi ambil bayesian Pak, sayang ya. hehehe. :’)
      hehehe makasih Pak udah nyemangatin, ini pas lagi agak turun semangatnya Pak. :’)

      Like

      1. hahah santai aja Aik..

        lo sekarang bukan bayes ya? wah selamat datang di dunia frekuentis :p

        harus semangat terus Aik…
        kalo lagi drop .. coba ingat2 betapa panjang perjuanganmu untuk mencapai kuliah di luar πŸ˜€
        kalo masih belum mempan , coba lihat orang2 yang tidak seberuntung Aik banyaaaak sekali
        kalo masih belum mepan juga , coba banyangkan masa depan cerah nanti saat Aik sudah lulus …

        top semangat ya !.

        Liked by 1 person

      2. terima kasih banyak yaa Pak, sudah diingatkan :’)
        Memang rasanya sulit banget sih ternyata, perjuangan ngedapetinnya sebelum ini kaya ga ada apa-apanya. :’)
        Pak Radit semoga sehat selalu ya, terima kasih selalu mengingatkan dan menyemangati saya. :’)

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s