Selamat Ulang Tahun Pernikahan ke-1 💚

Posted by

What a ride!

Tiba-tiba sudah setahun saja kami menikah. Sebuah perjalanan yang menarik dan menantang bagi saya, seorang anak tunggal yang sebelumnya hanya memikirkan dan mendahulukan kepentingan diri sendiri (ya, ngga ada saingan adek atau kakak juga kan). Saat ini di keluarga, saya menjadi seorang istri, ibu, anak, menantu, dan ipar. Keluarga bertambah besar, begitu pula tanggung jawabnya. Melewati tahun pertama mungkin bukan suatu pencapaian yang luar biasa, apalagi bagi mereka yang sudah mencapai milestone 5, 10, 15 tahun, dst. First year might be the easiest. Tetap saja, tulisan ini akan saya bagikan sebagai pengingat bagi diri sendiri.

Setelah menikah saya merasakan, oh begini to rasanya jadi istri, memiliki porsi perhatian, kekhawatiran, dan doa untuk orang lain selain orang tua dan tentu diri sendiri. Tidak pernah saya sangka sebelumnya saya ternyata bisa dengan besar hati mendahulukan dan memastikan kebutuhan orang lain terpenuhi sebelum diri saya sendiri. I am used to do everything alone and only for myself tho. Orang pada umumnya mungkin termakan stereotip bahwa anak tunggal adalah anak manja sampai pada titik saya sendiri pun “iya kali ya aku manja”, ya karena pada dasarnya itu tadi, ngga punya saingan, jadi memang kasih sayang orang tua 100% buat saya sendiri.

Tapi ada saat di mana saya terharu, baru-baru ini tetangga saya main ke rumah karena tangisan Revan yang kencang sekali, mungkin beliau khawatir kalau-kalau anak saya sakit. Lalu beliau kira-kira berkata “Oh syukur Alhamdulillah kalau anaknya sehat, emang manja aja ya suka nangis, mamanya anak tunggal juga soalnya” lalu mama saya menjawab “Ah ngga juga kok bu, anak saya ngga manja, apa-apa bisa sendiri kok, itu orang-orang aja yang mikir gitu soal anak tunggal” . Rasanya antara lega dan terharu mama sendiri bilang seperti itu. :’)

Jadi, sebetulnya tidak sulit bagi saya mengurus hal-hal domestik, dibilang bersihan atau telaten juga mungkin ndak, tapi hal-hal yang esensial memang saya biasa lakukan sendiri. Nah, sejak jadi istri, saya baru sadar saya punya potensi dan porsi menyayangi orang lain selain orang tua dan diri sendiri, menurut saya itu sebuah discovery yang luar biasa hahaha.

Di tahun 2019, kami menikmati waktu-waktu berdua (bertiga sama yang di dalam rahim). Kami memang tidak berencana menunda punya momongan, tapi jujur saja kami pun kaget bisa secepat ini dipercaya Allah untuk mendapatkan rezeki berupa anak yang insyaAllah shalih dan sehat selalu. Alhamdulillah. Kami ambil hikmahnya saja berarti Allah percaya kami sudah siap mendapat tanggung jawab besar ini. Awal menikah mama saya selalu mengingatkan, jangan sampai terucap “Nanti-nanti dulu deh punya anaknya” karena kita tidak tahu ucapan mana yang dikabulkan Allah. Takutnya yang nanti-nanti ini bisa keterusan, karena Mama pun punya pengalaman saat menunggu kehadiran saya di awal pernikahannya dulu. Zaman mama dan papa saya menikah, berbulan-bulan belum hamil kaya udah peer pressure mungkin, karena Mama baru hamil saya di bulan 9/10 pernikahan, yang sebenernya bagi saya sendiri, itu waktu yang normal, tapi mama cerita, dulu pernah tersebut dalam doanya “Ya Allah satu aja gapapa”, maksud hati sih satu dulu gapapa yaAllah, eh terkabulnya betulan cuma punya anak satu hehe. Jadi mama sudah wanti-wanti buat hati-hati dalam berucap.

Di tahun yang sama juga, kami mempersiapkan diri menjadi orang tua, ikut kursus persiapan melahirkan dan merawat bayi baru lahir, babymoon yang sebenernya lebih banyak tiduran di hotelnya karena ga berani aktivitas yang berlebihan.  Suamiku, makasih ya sudah mau ikut mempersiapkan sebaik-baiknya, walau akhirnya ternyata ga jadi lahiran normal seperti yang sudah dibayang-bayangkan dan diafirmasi. Allah ternyata punya rencana lain.

Masuk tahun 2020, semakin dekat ke hari perkiraan lahir (HPL), awal tahun cuaca sangat buruk sampai banjir bandang di Jakarta, mendekati HPL muncul berita bahwa akan ada hujan besar (12 Januari 2020), makin khawatir lah saya, karena orang tua dan mertua belum berangkat ke Jakarta, belum lagi urusan pindahan dari kosan ke kontrakan. Mungkin memang beban-beban pikiran ini yang bikin ga rileks dan nihil bukaan. :’)

Jadi orang tua, wow sebuah pengalaman yang luar biasa. Saya kira saya suka anak kecil, walau secara teori sudah didapatkan di kelas dan sudah diingatkan sama senior yang udah punya anak bahwa akan begadang dan melelahkan. Ternyata saya tetap kaget dan merasa sangaatttt lelah, anak menangis, saya pun ikut menangis. Lelah, kesal, dan sakit semua rasanya campur aduk, rasanya ada waktu kosong sedikit untuk tidur atau rebahan saja sudah nikmat luar biasa. Memang secara fisik, saya tidak biasa begadang, walau orang-orang bilang kan pas kuliah udah biasa begadang nugas, sejujurnya saya begadang karena tugas bisa dihitung jari sebelah tangan, karena saya orangnya betul-betul ga kuat begadang, besoknya saya bisa cranky dan sensitif kalau semalemnya tidak cukup tidur. Saya sampai heran kenapa orang-orang bisa mau punya anak ke-2 dst setelah pengalaman yang luar biasa ini.

Saat ini, anak kami sudah jalan masuk bulan ke-3, badannya makin kuat, makin lucu dan menggemaskan, tidurnya makin teratur walau memang untuk menidurkannya di malam hari masih butuh usaha yang luar biasa, tapi setidaknya demand-nya terhadap ASI sudah lebih berjarak, saya bisa punya waktu buat scroll-scroll media sosial dengan lebih leluasa (yha sangat tidak produktif bukan).

Di saat yang sama, sekarang seluruh dunia juga sedang menghadapi pandemi. Ada saat di mana ketika baca berita detak jantung saya kencang sekali sampai lemas terduduk. Ada kalanya saya menangis, khawatir sekali akan orang tua serta keluarga kecil kami yang baru setahun ini. Saya ingin bisa lama di dunia bersama mereka, hingga akhirnya nanti bertemu lagi di akhirat. Sungguh sebuah kondisi yang tidak nyaman, tidak tenang, dan mengkhawatirkan. Tapi ada ikhtiar sebelum tawakal, semoga usaha-usaha yang kita lakukan, termasuk berdiam diri di rumah bagi yang memiliki privilege dan menjaga jarak, menjaga kebersihan dan kesehatan.

Semoga wabah ini bisa segera berakhir, sabar-sabar bagi kita semua ya, mari kita doakan tenaga kesehatan serta ilmuwan agar selalu sehat dan bisa segera menemukan obat/penangkal/vaksin untuk virus ini. Semoga kita semua selalu dilindungi Allah swt. aamiin.

Ini tulisan di hari ulang tahun pernikahan tapi kok ga ada romantis-romantisnya ya, ya gapapa yang romantis-romantis sudah disampaikan langsung ke yang bersangkutan, bersama-sama mengamini doa untuk tahun-tahun selanjutnya.

Semoga kita bisa menghadapi bersama-sama dengan sabar dan selalu diliputi kasih sayang, rezeki, dan kesehatan untuk tahun-tahun selanjutnya ya.

I love you, suamiku. Many years to come.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s