Selamat 6 Bulan, Revan

Posted by

Enam bulan lalu, tepat hari Sabtu, sama seperti hari ini, Allah mempercayakan Mama dan Papa kehadiran Revan di dunia. Sebuah amanah yang besar bagi kami, saat kami memutuskan menikah, memiliki keturunan memang salah satu hal yang kami inginkan, walau cukup terperangah ketika Allah mempercayakannya begitu cepat. Alhamdulillah.

Nak, enam bulan lalu pukul 8.15, Mama mendengar suara tangis Revan untuk pertama kalinya, kencang sekali. Dokter kandungan Mama bilang “Wah galak nih Bu kayanya anaknya”, Mama cuma bisa meneteskan air mata, hanya dengar suara tangisan Revan saja, mama sudah terharu Nak. Kalau mama boleh jujur, proses lahiran Revan tidak seperti plan A dan ekspektasi Mama. Mama membayangkan persalinan normal, pegangan tangan sama Papa dan Oma, sambil disemangatin mereka berdua. Di bayangan Mama, itu syahdu banget. Namun ternyata, Mama ditemani sejumlah dokter yang bahkan cuma dokter kandungan Mama yang Mama kenal. Tim operasi lainnya bahkan tidak Mama ketahui namanya, kecuali dokter spesialis anak. Hari sebelumnya, Mama sebetulnya sudah disarankan dokter untuk menjadwalkan diri operasi saja, karena air ketuban Mama sudah menipis. Memang dokter bilang ada opsi untuk induksi, namun keberhasilannya juga tidak bisa dijamin dengan jumlah air ketuban yang Mama miliki saat itu, bahkan dokter bilang kalau dalam 12 jam ngga berhasil induksinya, tetap akan operasi. Tapi namanya juga Mama Revan, tentu saja Mama keras kepala dan ingin kejar yang Mama sudah rencanakan dulu. Semalaman Mama dan Papa di ruang VK, tiap 3 jam dokter jaga atau bidan cek hasil CTG Mama, hasilnya nihil, bukaan ga ada sama sekali, secara grafik CTG cuma ada 1x kontraksi dan Mama bahkan ga ngerasain itu. Paginya kira-kira pukul 7 dokter kandungan Mama datang dan cek masih tidak ada bukaan, dokter langsung bilang “Operasi aja ya Bu”, Mama yang semalaman ga bisa tidur karena menanti-nanti kalau-kalau ada kontraksi, mungkin ketidak-rileks-an Mama ini yang bikin kontraksinya macet ya, cuma bisa bilang “Yaudah dok, yang mana yang terbaik aja”.

Tiba-tiba semua terjadi begitu cepat, karena Oma dan Atuk sudah sampai RS, Papa disuruh pulang dulu ke kos untuk mandi, jarak RS ke kos kita waktu itu ga sampe 15 menit nak, lagian mikirnya kan operasi butuh persiapan. Ternyata Mama udah disuruh masuk ruang operasi sebelum Papa balik ke RS. Sungguh ambyar dan tidak syahdu seperti yang Mama harapkan, tapi Mama juga udah memang pasrah aja sih, bahkan kata orang saat disuntik anastesi akan sakit, Mama udah gabisa ngerasain apa-apa. Perasaan Mama saat itu mungkin memang campur aduk antara sedih tidak sesuai harapan sama khawatir kalau ngga cepet-cepet operasi kasian Revan di dalam perut Mama, jadi Mama cuma bisa kooperatif semaksimal mungkin. Ternyata dengan kondisi hati yang kalut begitu pun, hanya dengan dengar tangisan Revan, bahkan belum melihat Revan aja, perasaan Mama langsung plong, air mata tiba-tiba mengalir aja.

Nak, bahkan sejak Revan masih dalam kandungan, Mama dan Papa sudah belajar mempersiapkan diri, bahkan untuk proses persalinan yang mungkin bagi sebagian besar orang adalah proses natural, kami belajar lho Nak. Ya walau ternyata memang prakteknya kadang tidak sesuai dengan ideal di teori.

Mama kadang sedih kalau ingat hari-hari pertama kehidupan Revan malah terjadi pandemi, Mama ngga bisa dengan leluasa konsul tumbuh kembang Revan tiap bulan ke dokter anak. Sedih kita gabisa ke Payakumbuh, Sidoarjo atau Banjarmasin untuk lihat keluarga saat lebaran, bahkan ke luar pagar cluster aja Mama ketakutan sendiri. Tapi kalau dipikir baik-baik lagi, mungkin memang rejeki Revan dan Mama untuk bisa ASI Eksklusif langsung sama Mama, punya banyak waktu juga sama Papa, tanpa harus nunggu Papa pulang kantor.

Menjadi orang tua, memastikan pertumbuhan dan perkembangan sesuai ternyata tidak senatural itu, Nak. Mama kerap secara tidak sadar membandingkan Revan dengan anak-anak teman Mama. Bertanya-tanya di mana salah Mama, kenapa Revan tidurnya susah, kenapa Revan belum bisa ini atau itu. Padahal tiap anak itu unik. Sampai akhirnya Mama coba pasrah dan tetap ikhtiar, Mama yakin tiap orang tua lain memiliki rezeki dan ujiannya masing-masing. Pun sebetulnya hingga bulan ke-2 Revan lahir pun, Mama sering nangis entah mungkin itu baby blues, Mama masih belum bener posisi dan pelekatan saat menyusui Revan sehingga sering terasa sakit sampai harus menendang-nendang Papa, padahal Mama sudah belajar teorinya di kelas, tapi ternyata memang praktek ngga semudah itu. Sama seperti Revan, dunia ini masih sangat asing bagi Revan, banyak hal yang Revan harus pelajari, tugas Mama dan Papa untuk menstimulasi Revan, Maafin Mama dan Papa ya Nak kalau banyak sekali kekurangan kami.

“Kok kayanya punya anak susah banget gitu sih?” mungkin sebagian besar orang ketika baca tulisan ini mikir gitu. Bukan susah sih, challenging banget, lagi-lagi karena tiap anak itu unik, ada yang memang anaknya anteng, tidurnya banyak, ditimang-timang dikit bisa tidur. Bahkan anak pertama dan kedua dari rahim yang sama aja bisa berbeda. Anak kecil lucu itu udah jelas, bahkan sebelum melahirkan seniorku di kantor bilang “Iya, lucu, asal ngga 24×7 bareng-bareng”, it’s not an overstatement. Tiap anak ketawa akan hal yang mungkin ga sengaja kita lakuin, rasanya kebahagiaannya menular dan bakal coba ulang-ulang hal yang bikin dia ketawa. Tapi sama, tiap dia nangis akan hal yang dia belum bisa ungkapin karena memang belum bisa bicara, sedihnya juga menular sedangkan seringnya kita ga ngerti apa trigger yang bikin dia nangis.

Sekarang Mama dan Papa masuk fase baru, Revan makan, sudah mengikuti resep-resep dan teori feeding rules pun ternyata Revan masih asing dengan konsep makan, menangis dan teriak-teriak lah Revan, entah di mana salah Mama dan Papa, tapi Mama harap Revan mau belajar terus ya Nak. Semangat buat kita.

All in all, Terima kasih Revan sudah memberikan kami kesempatan untuk menjadi orang tua dan sama-sama belajar, terima kasih atas kebahagiaan yang Revan hadirkan dengan tingkah-tingkah lucu Revan.

Forever to come, I love you beyond words can describe.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s