Terima Kasih, 2020!

Posted by

Tahun 2020 bisa dibilang tahun yang terasa lama namun juga entah kenapa terasa cepat. Masih teringat awal Januari diawali dengan banjir besar di beberapa daerah di Jakarta. Lalu ada kabar akan ada hujan besar di Jakarta di dekat-dekat HPL Revan. Persiapan pindahan dari kos ke kontrakan yang ternyata cukup riweh karena biasanya ngekos bisa dibilang tinggal bawa badan dan koper. Sebuah awal yang cukup hectic untuk ibu hamil yang harusnya fokus dan rileks menghadapi hari persalinan. Pun ternyata proses lahiran tidak sesuai rencana A di birth plan yang sudah disusun dan didiskusikan dengan dokter.

Proses perkenalan di awal dengan anak juga tidak semulus yang dibayangkan. Persiapan teori memang baik karena kalau pun menghadapi masalahnya, sudah tau solusinya namun ternyata ketika praktek, tetap ada kagetnya. Masuk ke bulan ke-3 cuti melahirkan, sudah mulai galau, ga mau pisah dengan anak. Udah mau persiapan coba ninggal anak 1/2 jam sembari anak belajar pakai cup feeder ternyata ngga bisa dilaksanakan karena di awal bulan Maret, kasus pertama dan kedua covid-19 diumumkan. Sudahlah tidak pernah keluar selain ke dokter sejak lahiran, makin ga berani keluar, semua keperluan belanja online, even groceries. Cuci tangan sehari udah gatau berapa kali, semua barang yang dibeli langsung dicuci. Beli makanan dari luar juga dipanasin dulu. Cukup melelahkan lahir dan batin bagi saya yang sesungguhnya anti-ribet. Mungkin karena anti-ribet ini juga yang membuat saya selama pandemi dengan sangat besar hati di rumah saja. Karena, sebelum pandemi saja, sebelum keluar saya harus banyak persiapan untuk bayi, apalagi di masa pandemi gini, belum lagi saya suka ga sadar pegang-pegang muka. Saya pribadi tidak cukup percaya diri bisa telaten.

Tentu saya juga sedih (banget) karena bisa dibilang tingkat parnoku cukup berlebih, bahkan untuk ketemu keluarga yang masih beraktivitas di luar saja saya takut banget. Alhamdulillah saya dan suami mendapat rejeki bekerja di tempat yang mengizinkan kerja dari rumah selama pandemi, ini rezeki yang luar biasa besar bagi kami. Mungkin kalau suami atau saya masih kerja di kantor, saya mau tidak mau lebih terbiasa dan ngga separno ini. Jadi di satu sisi saya maklum dan ga iri sama sekali sama orang yang berani ke mall atau dine in. Maka dari itu saya juga berharap semoga keluarga saya bisa maklum atas ketakutan ini, selalu berdoa supaya keluarga dan orang-orang terdekat dilindungi dari segala macam penyakit terutama di masa pandemi ini. Sungguh saya kangen sekali sama keponakan-keponakan saya, saya ingin Revan bisa bersaudara, tidak seperti saya karena Mama Papa merantau jauh dari kampung. Sedih sekali rasanya, tapi saya yakin tiap orang atau keluarga punya keyakinan dan konsekuensi yang bisa ditanggung masing-masing. Saya sangat berterima kasih atas pengertian orang-orang sekitar kami.

Walau dijalani dengan banyak kegelisahan dan ketidaknyamanan, saya ingin sekali menuliskan di sini sebagai pengingat, terutama ke diri saya sendiri akan hal-hal yang bisa disyukuri di masa sulit bagi hampir semua orang. Harapan saya bagi yang membaca bisa coba temukan hal-hal meskipun kecil tapi bisa disyukuri di keadaan yang serba tidak pasti ini.

Alhamdulillah di tahun 2020, saya:

  • Memiliki kesempatan melahirkan seorang anak, mendapatkan kesempatan merasakan perasaan cinta yang belum pernah saya rasakan sebelumnya lengkap beserta kebahagiaan yang dibawa oleh sosok kecil ini ke keluarga kami.
  • Perjalanan menyusui yang cukup lancar sedari awal, meski ga ada stok sekulkas penuh karena >98% selalu direct breastfeeding.
  • Suami dapat tempat kerja baru di industri yang bisa dibilang tidak terdampak negatif oleh pandemi, betul-betul saat di awal pandemi, dan langsung boleh WFH.
  • Memiliki tempat yang mengizinkan full WFH dan rekan (terutama bos) kerja yang bisa sangat mengerti keadaan sebagai ibu baru. YaAllah malah saya sering ga enak.
  • Bisa berkumpul sama Mama.
  • Walau ga serumah, malah lebih sering komunikasi sama Papa di masa seperti ini, bukannya saya tidak mau papa saya ikut kumpul. Namun, kami sama-sama tahu Papa bukan tipe orang yang mau dan bisa diem di rumah, dan kami cukup sering berselisih paham, jadi sebetulnya saat-saat ini justru bisa dibilang masa yang lebih banyak kami ngobrol dibanding sebelum-sebelumnya, ya walau mostly karena cucu.
  • Tinggal di kontrakan yang cluster kecil 10 rumah satu pagar, jadi ngga sembarangan kendaraan atau orang bisa masuk, sangat ideal untuk kondisi seperti ini.
  • Diberi kesehatan, kecukupan rezeki dan kasih sayang dalam keluarga.
  • Banyak dapet kabar teman-teman menikah, hamil atau melahirkan. Kebahagiaan itu bener-bener menular bagiku.
  • Bisa beli oven listrik buat bikin kue sama Mama dan ada aja yang beli sedikit banyak.

All and All, meski keadaan ini tidak ideal, banyak hal yang di luar rencana maupun keinginan. Sesederhana di awal lahiran dibilang “jalan-jalan pas anak umur 5 bulan aja, udah pinter dan belum ribet MPASI”, eh ternyata keadaan tidak memungkinkan. Ya gapapa, bagi orang lain ga keluar rumah mungkin bikin stress, tapi kalau bagi saya, keluar rumah dengan keadaan yang tidak aman dan nyaman lebih bikin saya stress. Tentu saya selalu berdoa supaya pandemi segera berakhir sehingga saya bisa berkumpul sama keluarga dan ajak anak saya eksplor ke luar rumah tanpa saya merasa ketakutan.

Semangat, kita semua! Bagaimanapun kondisinya, semoga kita selalu diberi kesehatan, kebahagiaan dan perasaan cukup. Semoga keadaan cepat membaik dan kondusif sehingga kita bisa memulai rencana-rencana baru. Untuk saat ini mari kita bisa sama-sama memaklumi keadaan dan beradaptasi sebaik-baiknya.

Thank you, 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s