Pengalaman Menggunakan IUD

Posted by

Sudah hampir 3 bulan sejak kami memutuskan untuk menggunakan KB IUD untuk mengatur jarak kelahiran antar anak. Di sini saya nggak akan ceramah kenapa harus mengatur jarak karena ga ada expertise di bidang tersebut. Pada dasarnya perencanaan keluarga kembali lagi ke masing-masing dengan mempertimbangkan kemampuan tiap keluarga. Artikel ini mungkin bisa menjadi pertimbangan dan pengertian bagi tiap rencana yang berbeda.

Jadi, mengapa saya pilih IUD? Lengkapnya secara medis bisa dibaca di sini. Tapi berikut poin-poin pertimbangan utamanya:

  • Tidak mempengaruhi hormon sehingga aman buat mood ibu dan tidak pengaruh ke supply ASI
  • Sekali pemakaian, jadi ga khawatir lupa jadwal, misal kalau minum pil KB atau KB suntik
  • Jangka waktu perlindungannya bisa mencapai 5-10 tahun. Pun bila sebelum limit waktunya tercapai sudah ingin hamil lagi, setelah dilepas, besar kemungkinan bisa langsung hamil lagi.

Bagaimana proses pemasangannya?

Saya menggunakan IUD di hari terakhir datang bulan pertama setelah melahirkan. Jadi, fyi, tidak semua ibu setelah melahirkan langsung menstruasi karena bisa dipengaruhi oleh hormon prolaktin (hormon menyusui). Oleh sebab itu, 6 bulan pertama ASI eksklusif disebut juga dengan KB alami, asalkan memenuhi syarat di 6 bulan pertama asupan bayi masih sepenuhnya ASI dan ibu belum menstruasi. Karena apabila sudah menstruasi, bisa dibilang sudah subur kembali. Tapi KB dengan metode ini sebenarnya sangat riskan kalau ingin mengatur jarak kehamilan, karena masa subur terjadi 10-16 hari sebelum menstruasi, sehingga bisa kejadian yang umum disebut orang dengan kesundulan.

28 days Menstruation Cycle

Mengapa harus saat menstruasi? Karena ketika menstruasi dinding rahim lebih melunak sehingga ketika pemasangan tidak begitu sakit dibandingkan dengan ketika tidak masa menstruasi. Atau bisa juga sesaat setelah lahiran atau pun saat masa nifas ketika rahim masih dalam masa pemulihan. Pemasangan IUD saat proses lahiran (setelah plasenta dilahirkan) bisa dilakukan setelah konsultasi ke dokter masing-masing, dulu saya memang bikin birth plan dan mengomunikasikan dengan obgyn, namun karena belum terpikir untuk pilih IUD dan tahunya sekedar 6 bulan pertama “aman” dari kejadian hamil lagi, jadi memang tidak mempertimbangkan kontrasepsi ke dalam birth plan.

Proses pemasangan IUD sendiri cukup singkat ya, 15-30 menit, bagi ibu yang lahiran per vaginam mungkin akan lebih rileks dan merasa biasa saja, secara singkat rasa tidak nyamannya seperti saat cek bukaan atau USG transvaginal (bila pernah). Saat pemasangan agak terasa mules-mules dikit gitu, tapi ya karena sambil pegangan sama suami jadi mengalihkan perhatian aja dengan minta (maksa) diajak ngobrol atau baca tiap tulisan yang bisa terlihat di ruangan dokter, tiba-tiba udah selesai aja.

Bagaimana cara kerja IUD?

Secara singkat alat berbentuk T akan menghalangi sperma untuk masuk ke saluran indung telur seperti gambar berikut:

Saya menggunakan yang cooper, non hormonal.

Jadi, selama posisi IUD tetap pada tempatnya maka kemungkinan terjadinya pembuahan akan sangat kecil. Apa yang membuat posisi tidak optimal? Salah satunya kata dokter yang membantu pemasangan IUD saya saat itu, adalah pendarahan menstruasi yang mungkin terlalu deras, tapi ini juga ga sekali kejadian mens lalu geser ya. Maka dari itu, perlu ada pemeriksaan rutin 6 bulan sekali dan 2 minggu setelah pemasangan pertama untuk cek apakah posisi masih optimal. Jangan khawatir untuk cek posisi IUD tidak menggunakan USG transvaginal jadi ya kaya kontrol rutin kehamilan aja.

Apakah ada efek samping?

Dokter bilang apabila ada ketidak nyamanan di awal itu wajar. Hal ini juga saya rasakan di 1-2 minggu pertama. Saya merasakan nyeri yang hilang timbul tapi tidak sampai menghalangi beraktivitas ya, mungkin seperti nyeri haid ringan dan sempat agak keliyengan juga. Ini mungkin kebetulan asupan gizi juga lagi kurang, tapi kata dokter itu masih wajar di awal pemakaian. Lalu dokter juga bilang 3-6 bulan pertama setelah pemakaian bisa saja masih terasa tidak nyaman sekali-sekali terutama saat berhubungan dan saat menstruasi. Menstruasi bisa jadi juga lebih lama atau pun lebih banyak volume darahnya. Untuk 3 bulan pertama ini saya tidak merasakan ketidak nyamanan setelah 2 minggu di awal pemakaian, seperti biasa saja, namun betul memang saya merasa volume darah saat menstruasi lebih banyak, ya mungkin ini juga karena sudah setahun lebih ga menstruasi saya jadi lupa-lupa inget sebetulnya sebanyak apa menstruasi yang wajar.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman saya dalam 3 bulan penggunaan IUD, saya merekomendasikan penggunaan IUD bagi pasangan yang berencana mengatur jarak kelahiran. Selain karena tidak ada efek apa-apa di aktivitas sehari-hari maupun saat berhubungan, tidak berpengaruh ke ASI dan mood ataupun berat badan ibu (ya tapi saya juga belum balik kaya sebelum hamil sih berat badannya T_T). Boleh sejak merencanakan kelahiran didiskusikan sama dokter kandungan kemungkinan pemasangan IUD saat setelah melahirkan (lahiran naturan maupun operasi). Atau apabila mau ditimbang dulu dengan merasakan pengalaman punya anak dulu juga gapapa, ya mana tau setelah dirasain malah pengen cepet-cepet nambah ya kaaan, orang kan kemampuannya berbeda-beda. Karena memang sesungguhnya walau berat sekali bagi saya di awal, tapi tetep bahagianya lebih banyaakk. Nah tapi tetep saya sarankan saat hari terakhir mens yaa supaya kondisi mulut rahim juga lebih lunak, jadi saat pemasangan tidak begitu sakit.

Jadi, karena sepengamatan saya banyak yang hamil produk PSBB pandemi ini, mungkin bisa mulai didiskusikan nih rencana KBnya. Selamat menikmati persiapan menjadi orang tua yaa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s