Refleksi Diri

Sudah (lebih tepatnya “baru” ya) dua tahun berjalan menjadi orang tua, rasanya masih banyak sekali yang belum bisa lakukan dengan baik sebagai orang tua. Banyak teori-teori tentang parenting di sosial media, akses buku pun mudah, tapi mengetahui teori tentu tidak semudah pelaksanaannya.

Revan anakku, sungguh tiada rangkaian kata yang cukup untuk mendeskripsikan sebesar apa cinta Mama ke Revan, tapi walau begitu ternyata Mama masih bisa merasakan berbagai emosi marah, kesal, dan sedih sama Revan. Sepertinya sejak lewat ulang tahun pertama dan saat-saat Mama menunggu kata-kata pertama Revan dan sampai sekarang pun belum banyak kita bisa ngobrol sehingga sejujurnya sangat sulit bagi Mama memahami Revan ketika sudah menangis histeris. Maafin Mama ya, Nak. Kalau zaman sekarang orang suka menyebut inner child yang belum terselesaikan, ya mungkin itu juga yang terjadi di Mama, Nak. Mama tumbuh dengan menyimpan banyak hal dalam perasaan Mama sendiri, meski orang bilang anak tunggal pasti dituruti semua kemauannya, Mama lebih banyak diam karena Mama mengetahui situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Maafin Mama kalau ternyata mungkin anak kecil dalam diri Mama jengkel dan kesal sama Revan, karena mungkin dulu Mama tidak sebebas Revan dalam berekspresi. Bahkan kata Oma pun, Mama memang jarang menangis saat kecil (sekarang liat iklan sendu dikit aja Mama nangis). Mama sebetulnya sadar dan tidak ingin Revan tumbuh seperti Mama di hal tersebut, percayalah Nak di sebagian besar kesempatan, Mama sudah menahan diri Mama sebisa mungkin agar tidak kelepasan. :’)

Oma juga bilang pernah menyesal sampai terbawa sampai Mama dewasa dan minta maaf, tapi Mama sama sekali ngga ingat. Mungkin Revan pun juga seperti itu, tiap hari Revan memaafkan Mama, lari ke pelukan Mama, dan sebisa mungkin tiap hari Mama juga minta maaf sama Revan.

Sepertinya kunci utama menjadi orang tua adalah sadar, sadar bahwa anak ini ya masih belum banyak mengerti, tidak mungkin secara sengaja ia membuat jengkel orang tuanya, sadar bahwa ia juga kebingungan dengan dirinya sendiri. Sadar kalau anak baru makan manis dan umumnya dia gak akan semangat makan setelahnya, sadar kalau anak tidur kesorean dan tentu anak lebih malam tidurnya. Ketika sadar ya cukup mudah dalam menghadapi kelakuan ajaib anak dengan tenang, namun ketika sedang hilang akal rasanya nyesel aja inget “kenapa harus marah” tiap liat anak tidur.

Dua tahun ini Revan hadir membawa kebahagiaan berlipat-lipat, kelakuan lucu Revan, ocehan-ocehan bayi Revan, lari ke pelukan Mama, suara Revan manggil Mama, rasanya hangat setiap ingat itu semua. Terima kasih Revan karena sudah hadir di kehidupan Mama dan Papa, semoga Revan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, menjadi manusia yang membawa manfaat bagi sekitar, dan tentu sekian banyak doa lain yang selalu Mama doakan untuk Revan yang akan sangat kepanjangan di sini. Lebih pentingnya semoga Mama dan Papa bisa menjadi contoh yang baik bagi Revan, selalu menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, menjadi orang tua yang sadar dan sabar, bisa mendapat rezeki yang lebih dari cukup untuk bisa membimbing dan menemani Revan sampai dewasa, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: