Dua Tahun Menjadi Ibu

Sudah lebih dari sebulan Revan disapih dan sudah lama ingin menuliskan pengalaman dua tahun hidup dengan manusia yang kebutuhan sehari-harinya masih sangat bergantung dengan manusia lain. Tujuannya nanti ketika Allah percayakan lagi amanah tambah anak, bisa teringat sedikit banyak pengalaman di anak sebelumnya dan tidak membanding-bandingkan karena pasti tiap anak ada bedanya. Ini juga udah cukup banyak yang lupa secara detail sih makanya ingin segera ditulis. Alhamdulillah kalau bisa bermanfaat untuk ayah ibu lain yang membaca untuk bisa dicoba mana tau anaknya setipe dengan Revan. Tulisannya mungkin akan dibagi pembahasannya mengenai bagian-bagian besar yang menantang dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada umumnya sih praktek yang saya lakukan referensinya berdasarkan IDAI ya. Pasti ada saja referensi lain, tapi bagi saya sendiri belum bisa memelajari semua sendiri, jadi saya percayakan sama IDAI saja.

Beware, It’s a very long post, for me to revisit someday haha.

Menyusui

Kalau orang bilang menyusui itu natural, ya, bisa saja terasa begitu natural di sebagian besar orang yang memang perjalanan menyusuinya lancar-lancar saja. Saya pribadi sangat menyarankan untuk belajar dulu mengenai menyusui, ajak suami agar sama-sama paham dan setuju jalan yang dipilih dalam menyusui anak. Tidak berlebihan kalau saya bilang perjalanan menyusui 2 tahun saya bisa lancar dan nyaman tentu ada peran besar suami dan mama saya. Belajar teori menyusui ini bisa banyak sumber ya, apalagi instagram sekarang sangat banyak konten yang cocok untuk Ibu muda. Saya sendiri ikut kelas ya karena lebih suka belajar langsung sama yang ahli biar bisa langsung tanya dan tentu lebih terstruktur bila dibandingkan dengan cari sendiri di media sosial. Saya belajar dengan konselor menyusui ya, jadi memang ahli dan terpercaya. Selama 2 tahun menyusui saya hampir selalu menyusui langsung, karena kebetulan setelah cuti melahirkan langsung mendapatkan WFH karena pandemi. Sempat di awal melahirkan agar bisa memperpanjang waktu tidur, sampai usia 1 bulan, di malam hari kadang gantian menggunakan dot dibantu oleh suami. Walau sejujurnya ya tetep kebangun yaa kedengeran suara anak nangis. Berhenti menggunakan dot karena memang sebetulnya sudah tahu ada resiko bingung puting, jadi memang pada 1 bulan awal pun menyusui dot hanya 1x di malam hari. Saya tidak ada stok ASI perah yang memenuhi kulkas seperti orang-orang di instagram, tidak rutin pumping karena dari yang saya ketahui ASI akan cukup sesuai kebutuhan anak. Jadi kalau ditanya apakah ASI pernah seret? Ya mungkin ya, tapi karena tidak diperah jadi ga bisa menyimpulkan sendiri. Perjalanan menyapih juga bisa dibilang sangat lancar, yang jelas dari usia 1.5 tahun sudah sempat diberi pengertian ketika udah 2 tahun, sudah tidak menyusui lagi. Memang baru ketika 2 bulan sebelum 2 tahun yang lebih intens briefing-nya. Di hari ulang tahun ke-2 ya ditepati kata-katanya, tidak lagi menyusui dan tidur ditemani Papanya. Tiga malam pertama masih menangis kencang terbangun tengah malam, tapi setelah dipuk-puk sebentar bisa tidur lagi. Alhamdulillah bisa dibilang tanpa drama. Padahal pun anaknya belum siap ya saya masih rela aja menyusui, tapi karena anaknya juga sudah paham dan saya juga bukan tipe yang mellow banget gitu jadi ya sudah dijalani saja.

Intinya, rekomendasi untuk update ilmu menyusui, temui konselor, menyusui langsung apabila memang sedang tidak terpisah dan selalu minta dukungan orang terdekat.

Lagi disinar anaknya :’

Tidur

Ini merupakan tantangan yang cukup sulit bagi saya di awal setelah melahirkan. Lagi-lagi tipe anak bisa berbeda-beda ya, ada yang mungkin anaknya banyak tidurnya karena memang anak baru lahir ya butuh banyak tidur. Tapi ada anak yang selain banyak tidurnya, banyak (banget) nyusunya, jadi tidurnya belum bisa tidur tanpa putus sampai pagi hari. Ini wajar ya, asal memang setelah disusui, diganti popoknya, ditimang-timang tidak nampak gelisah atau tidak nyaman pasti akan tidur lagi. Tapi sejujurnya bagi saya, bila dibandingkan saya merasa lebih cukup tidur dengan 5 jam tidur tanpa putus dibandingkan 7 jam tidur terputus-putus. Jadi memang di awal kelahiran anak saya merasa sehari-hari sangat ngantuk, ga jarang juga jadi lebih mudah marah. Apa yang saya lakukan? Tetap konsisten pukul 19.00 masuk kamar redupkan lampu. Tidak mengajak anak “main”. Ya digendong sih intinya, tentu saja banyakan bapaknya yang gendong gantian sama saya yang menyusui. Sering kali anak baru nyenyak tidur di atas pukul 22.00 itu pun masih digendong hahaha. Sampai umur 5 atau 6 bulan sepertinya masih cukup sering kebangun. Mulai terasa signifikan membaik ketika mendekati umur setahun. Kalau tidak salah 1.5 sampai disapih rata-rata kebangun 1x saja, dan habis disapih betul-betul nyenyak tidurnya :’). Jadwal tidurnya juga rutin antara pukul 19.00-20.00 sampai 05.00-06.00 tapi dia kalau Mamanya sahur, atau bangun subuh pas adzan ya ikut kebangun juga hahaha. Alhamdulillah anak soleh. Tidur siang antara 1-2 jam mulai sekitar pukul 10.00 sesekali kalau kelewat tidur siangnya ya pukul 14.00 minta tidur juga ini berakibat kadang tidur malamnya jadi lebih telat.

Ya Allah masih kecil banget Revan :’
waktu belum paham kalau harus dibiasain masuk kamar di jam yang teratur

Intinya ngantuk banget awal-awal memang, tapi kalau konsisten buat rutinitas sebelum tidur, anak pasti lama-lama mengerti kalau sudah waktunya tidur, diajak banyak main saat siang agar malamnya ga merasa kurang main. Saya tahu betul ini privilege saya karena Alhamdulillah WFH, kebayang kalau orang tuanya pulang malam dari kantor, pasti anak ingin main dulu sama orang tuanya sebelum tidur, jadi kondisi orang memang ga bisa dipaksakan ya.

Makan

Lagi-lagi saya sebut saat Revan MPASI, saya ikut teorinya IDAI ya, jadi bebas aja kalau ada yang ikut teori lain. Dari awal MPASI sampai usia 8 bulan bisa dibilang Revan ini makanan sehari-harinya ya bubur fortifikasi. Sepertinya karena awal mulanya saya baca di kemasan bubur fortifikasi ada petunjuk “porsi pengenalan” lalu kupikir yasudah pakai ini dulu aja, lah jadi lah Revan sudah keburu tahu “enaknya” bubur fortifikasi. Lalu saya juga pakai gula dan garam ya, seperti kata IDAI, tidak masalah menggunakan gula garam sedikit. Sebenernya masak biasa pun saya pakai garam juga sering ga berasa karena takut keasinan. Sehingga masak MPASI pun lebih takut lagi jadi tetep aja pas kucicip ya tawar banget, gimana anaknya mau doyan. Lalu asumsi lain yang sepertinya kurang cocok di Revan adalah mencampur jadi satu antara nasi dan lauk, sering keliatan di video tutorial masak MPASI, karbonya dicampur langsung dengan lauk jadi bubur gitu kan. Nah tapi Revan ini justru mulai doyan makan ketika 8 bulan nasinya udah yang nasi lembek gitu dan keliatan “terpisah” dari lauk. Setelah nasinya disendirikan ini dan saya mulai lebih berani bumbuin makanan, Revan ini hampir selalu mau makan apa saja. Bukan berarti ga pernah nolak makan ya, tapi nolak pun paling cuma 1 sesi makan, atau ya makan cuma porsinya lebih sedikit. Alhamdulillah banget bersyukur sekali rasanya setelah di bulan-bulan awal mau nangis tiap habis masak. Ya walaupun tetap ada masalah lain seperti BB yang naiknya kurang bagus walau anaknya maemnya “kelihatannya” banyak. Ini PR lain lagi ya, dari yang kalorinya mungkin kurang padat, cemilannya kurang “berat” atau memang persentase karbo protein lemak-nya kurang pas. Karena memang Revan setelah konsultasi ke DSA pun dibilang aman aja pertumbuhannya, jadi memang makanannya yang dikoreksi lagi. Setelah di atas 1 tahun kebutuhan naik BB tidak sebesar sebelumnya ya, memang sudah tidak stuck lagi (pernah stuck 3 bulan pas sebelum 1 tahun T_T), naik BBnya memang minim sih tapi yang penting masih sesuai kurva pertumbuhannya saja :’)

From this
To this –> ini video dicepetin ya soalnya buat ig story waktu itu haha.

Oh iya saya juga tipe yang ikutin aturan makan sebisa mungkin. Makan sambil duduk, ga pernah Revan makan sambil diajak muter-muter, karena ya gamau repot juga kalau kebiasaan. Kalau dia ga mau makan, ditawari lagi setelah dijeda ya sudah skip makannya. Sebisa mungkin selalu duduk. Kalaupun dia lagi jalan-jalan tidak mau duduk ya saya akan ingatkan, trik yang berhasil di Revan adalah berhitung 1-10, biasanya paling lambat di hitungan ke-10 dia udah duduk lagi. Jangan dikejar, kalau ga mau duduk, selesaikan makannya. Ini kadang ya bocor juga apalagi kalau bukan sama saya makannya, tapi sekali lagi ya kita pasti butuh bantuan, relakan hal-hal yang memang bisa kita terima konsekuensinya. Satu lagi, kalau anak lagi sakit, lebih utama asupan makan masuk dibandingkan aturan makan ya.

Perkembangan

Ini sebagai pedomannya sebenernya bisa pakai aplikasi Primaku (untuk track BB/TB/LK-pun juga bisa). Kesalahan awal yang jangan diulang lagi kalau punya anak ke-2 adalah jangan ga tegaan ajak anak tummy time, sebagai orang yang sangat ikutin teori, tummy time ini entah kenapa di bulan-bulan awal kok saya ga tegaan padahal mah bagus juga buat anak hahaha. Jadi memang baru lebih sering tummy time kayanya setelah 2 bulan, padahal dari puput tali pusar udah boleh banget dirutinin.

Jadi Revan cukup telat bisa guling kedua arah dari tengkurap dan telentang baru di usia 6.5 bulan. Duduk sendiri kayanya tidak jauh dari bisa berguling dua arah. Merambat juga udah dari 7 bulan. Jalan beberapa langkah ini seinget saya 2 hari setelah ulang tahun pertama, tapi baru terlihat lebih lancar ya kira-kira 2 minggu setelahnya. Pakainya push walker ya bukan baby walker. Sebenernya di rumah, kursi sama galon juga doi pake jadi push walker haha.

Padahal ada push walker beneran eh tetep kursi lebih menarik haha

Yang cukup mengkhawatirkan dari perkembangan Revan ya bicaranya sih, sampai sekarang di usia 25 bulan pun, Revan masih cukup tertinggal kemampuan bahasanya dibanding anak seusianya, tapi ini jauuuh lebih baik dari setengah tahun lalu. Padahal Revan ini bisa dibilang ga ada screen time, doyan banget baca buku. Tapi ya sampai 18 bulan diajak ngomong dia mengerti, tapi ya balasannya hanya senyum saja, tidak ada meniru ucapan orang lain, tidak mau menyambung kata, misal “Ini Ga….” “Jah”. Bahkan saya baru yakin dia mengucapkan “Mama” dan “Papa” dengan betul tujuannya memanggil ya ketika usia 19 bulan. Padahal umumnya anak usia setahun sudah bisa. Setelah itu di usia 21 bulan baru mau sedikit-sedikit menyambung kata. Saat ini masih banyak sekali kata yang dia ucapkan ujungnya saja dan mirip-mirip (misal “aju” ini artinya bisa baju, maju “anyah” artinya bisa merah, banyak, sana) tentu saja ini sudah progres besar bagi kami, mengingat di anak lain harusnya ini sudah muncul di usia 18 bulan. Sepertinya kalau masalah bicara ini bisa satu postingan sendiri haha. Doakan ya bisa segera cerita-cerita sama anak, karena memang sebelum nikah udah sering liat Mba Kirana (ignya ibuk retnohening), jadi ekspektasi punya anak ya bisa ngobrol-ngobrol manis gitu haha.

Umur 20 bulan tapi Mamanya masih antusias karena setelah sekian lama keluar juga dengan jelas manggil Mama Papa, padahal ya baru bisa itu aja :’)

Tapi karena memang sudah diperiksakan ke DSA dan memang perkembangan yang lain masih aman saja ya sampai sekarang masih stimulasi dari rumah saja. Saya sadar diri sih saya tidak cukup banyak bicara dibanding ibu-ibu lain. Saya suka dipancing bicara, tapi tidak pandai memulai pembicaraan, maka dari itu saya suka banget pakai media buku untuk ngobrol sama anak. Sama seperti makan dan tidur, saya yakin semua ini akan segera berbuah manis dan anak saya akan mau cerita banyaaakkk sama Mama dan Papanya, aamiin. :’)

Kesimpulan

Kesimpulannya apa ya lebih banyak cerita doang ini hahaha. Kesimpulannya tiap anak ada saja rezeki dan ujiannya masing-masing, sebagai orang tua usahakan bisa hadir dan sadar (ya saya mah juga masih beberapa kali ga sadar dan marah-marah huhuhu). Kerja sama dengan orang rumah itu penting sekali, saling kerja sama dan satukan pengertiannya, karena dalam pengasuhan apalagi kalau ada mitos-mitos pasti ada aja konfliknya, tapi inget yang punya kendali tetep orang tua karena anak ya tanggung jawab orang tuanya. Konsisten adalah kunci dari hampir semua hal dan ini sulit memang, ga hanya soal pengasuhan anak ya konteksnya.

Foto paling baru hari ini, kursi yang sama yang dia dorong-dorong pas belajar jalan haha

Kesimpulannya juga, Revan….. makasih ya anak sudah tumbuh dengan sangat baik dengan keterbatasan yang kami bisa berikan. Terima kasih selalu mau kembali peluk Mama walau Mama habis marah-marah, terima kasih sebenarnya Revan termasuk anak yang cukup mudah untuk diajak kerja sama bahkan dari saat di kandungan, sesuai doa Mama dari Mama hamil “Jadikan ia anak soleh/solehah, sehat, bisa diajak komunikasi dan kerja sama dengan baik” Tentu ini versi singkatnya ya, karena ga habis-habis doa buat anak tuh. Walau sering terbangun di malam hari, Revan sebetulnya tidak pernah yang betul-betul “terbangun” mengajak begadang semalaman, cuma memang karena tidur ini kebutuhan yang sensitif sekali bagi Mama, rasanya masa-masa terbangun tiap beberapa jam ini sangat melelahkan bagi Mama. Maaf ya Nak, Mama sering mengeluh, Mama belum bisa memvalidasi perasaan Revan dengan baik seperti yang seharusnya Mama lakukan, karena Mama juga masih belajar, dan Mama harap Revan selalu mau belajar sama-sama ya Nak. Mama dan Papa selalu ingin jadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Mama ga sabar buat bisa ngobrol panjang lebar sama Revan, Nak! I love you so much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: