28 tahun, Seorang Ibu.

April ini genap setahun aku berhenti jadi pekerja kantoran dan memutuskan fokus ke anak. Apakah keputusan ini lalu menjadikanku menjadi ibu yang lebih baik? Mungkin di beberapa hal, iya. Aku suka sekali main sama anakku, aku memosisikan diri seperti sesama anak kecil, semua masih terasa mudah sampai anaknya cukup besar untuk memiliki keinginan sendiri, rasa penasaran yang luar biasa tinggi serta kemampuan melakukan aksi tanpa peduli aspek keamanan dengan kemampuan bicara yang masih belum jelas rasanya sangat menguji emosi. Bahkan untuk sesuatu yang sebelumnya dengan mudah dilakukan tiba-tiba jadi banyak ditolak. Rasanya banyak hal dari contoh buruk konten-konten parenting yang aku lakukan, bahkan sudah sadar begini pun rasanya ketika kejadian, seperti tidak ada waktu untuk tarik nafas, langsung emosi aja. Awalnya hanya berdalih PMS, kurang tidur, atau sedang lelah, tapi tetap saja seharusnya sebagai orang dewasa, seharusnya aku lah yang seharusnya mengendalikan dan bukan dikendalikan.

Menjadi orang tua merupakan peran yang paling sulit bagiku, sebenarnya menjalaninya lebih banyak senangnya, tapi sekalinya dikendalikan oleh emosi, seakan seluruh hal yang dilakukan ketika sabar menjadi tak berarti karena rasa bersalah yang begitu besar. Sering pula aku berpikir apakah ini karena aku tumbuh di keluarga yang tidak harmonis, lalu aku menyalahkan diriku sendiri lagi karena itu adalah hal yang tidak bisa kita pilih pun kita perbaiki. Aku sadar betul di sinilah peranku untuk menghentikan lingkaran setan sebab-akibat hal-hal buruk yang aku rasakan saat ini untuk tidak menyalurkannya ke anak.

Mungkin sedikit banyak ibu (dan ayah) lain bisa memahami kemelut ini. Beberapa mungkin akan bilang mungkin butuh me-time, butuh liburan, butuh konsultasi, dll. Menjadi ibu membuatku bisa lebih empati terhadap tiap kondisi keluarga, karena memang tidak semua keluarga punya kondisi ideal untuk memilih solusi dan menanggung konsekuensi yang ia bisa tanggung. Aku memilih untuk berhenti bekerja karena aku ingin bisa langsung turun tangan memandikan, menyuapi, menyikat gigi, bermain, menidurkan, mengajak bicara, membaca buku untuknya. Dengan konsekuensi aku tidak benar-benar punya waktu untuk diri sendiri, pun menginginkannya saja tidak, karena terlalu hanya berpikir soal anak, yang menjadikan ketika burnout, ya anak lagi yang kena, padahal ini bukan pengamalan yang tepat dari “memikirkan anak”. Konsekuensi lain tentu saja kehilangan kemampuan sosialisasi, apalagi di pandemi seperti ini, anak pun menjadi anak yang takut terhadap situasi dan orang baru. Sungguh pilihan yang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sesuai kemampuan tiap orang tua dalam menerima konsekuensinya. Aku bisa mafhum akan rasa bersalah ibu yang bekerja kantoran, di sisi lain aku juga paham betapa melelahkannya keseharian bersama anak.

Nak, walau Mama masih banyak sekali kurangnya, Mama selalu berharap kebaikan yang sehari-hari kita jalanin bersama bisa lebih banyak teringat dibandingkan kekhilafan Mama. Mama nggak sabar untuk kita bisa saling bicara. Mendengar Revan bilang “Revan maafin Mama” setiap Mama minta maaf karena kelepasan marah dan tentu mendengar dengan jelas “Revan sayang Mama”, karena rasanya tiap melihat Revan senyum saja hati mama otomatis hangat dan terasa penuh. :’)

Nak, Mama masih punya mimpi personal yang ingin sekali Mama gapai, Mama ingin diingat sebagai diri Mama sendiri, bukan hanya menjadi istri atau ibu dari seseorang. Suatu hari Mama tetap ingin kembali berkontribusi ke sekitar, menjadi manusia yang bermanfaat, menjadi inspirasi bagi Revan. Bahwa tidak masalah berhenti sejenak, selalu bisa memulai lagi bagi yang ingin mencoba selama masih diberi kesempatan sama Allah. Jujur, tentu Mama pernah minder dengan pencapaian-pencapaian orang lain. Tapi lagi-lagi Mama ingatkan diri Mama bahwa ini pilihan Mama. Anak tidak pernah menjadi alasan karir yang terhenti sejenak karena justru dengan bersama anak, Mama merasa lebih bermanfaat. Nanti ketika Mama mulai kerja lagi, mungkin Mama ga akan marah-marah lagi karena kebutuhan batin Mama akan pencapaian lain dalam hidup cukup terpenuhi, tapi mungkin juga Mama tetap akan kelepasan marah karena alasan capek, dsb.

Dengan menulis ini mungkin cara Mama me-time dan menyadarkan diri sendiri akan kesia-siaannya energi Mama untuk marah-marah. Kemarahan Mama kepada diri sendiri mungkin emang lebih baik dituliskan agar malu dan memperbaiki diri ke depannya. Kemampuan Mama memahami kesalahan Mama akan menjadi bekal untuk Mama menjadi manusia yang lebih baik secara keseluruhan, karena Mama begitu sayang sama Revan, dan tentu sayang sama diri Mama sendiri, Mama ga mau jadi manusia yang penuh dengan penyesalan.

Tulisan ini pun sebetulnya berlaku untuk berbagai peran lain yang kujalani, sebagai Ibu, istri, dan anak tidak ada rasanya yang bisa kujalani dengan sempurna. Hanya bisa bersyukur banyak-banyak diberikan anak, suami, dan Mama yang bisa saling memaklumi dan memaafkan.

Ai, kamu Mama yang baik kok. Tapi kamu bisa lebih baik lagi dari sekarang, coba lebih sabar dan sadar ya. Setiap hari bisa lebih baik lagi kok. Lihat anak kamu tidur teratur, makannya ga milih-milih, BB tidak seret lagi, perlahan-lahan walau tetap tidak sama seperti anak seumurannya, anak sudah makin banyak bicara setelah sebelumnya terkena red flag di usia 16 dan 24 bulan, sangat suka buku bahkan ketika mengigau pun bilang “baca buku”, seringkali minta dingajiin sebelum tidur, MasyaAllah, nikmat Tuhan Mana yang kamu dustakan?

Tentu masih banyak PR lain, tapi tidak apa-apa, pelan-pelan dan belajar sama-sama, tidak perlu semua jadi salahmu ketika ada hal-hal yang tidak sesuai. Siapa lagi paling mengerti omongan anak yang belum jelas kalau bukan kamu? Siapa yang bisa mengajak main sampai anak tertawa terbahak-bahak bahkan untuk permainan yang sederhana? Siapa yang bisa menenangkan anak ketika dia tantrum? Mamanya, tentu ketika Mamanya tidak ikut tantrum, pelan-pelan, tapi pasti bisa kok, jadi manusia yang lebih baik.

To be 28, a mom, a wife, a child, a person, Alhamdulillah, I am wholeheartedly thankful for every opportunity given to me and consistently trying to be a better person and hopefully Allah will give me a blessed long life with my family, sakinah mawaddah wa rahmah until jannah. Barakallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: